Cleo Daur Ulang 3.000 Ton Sampah Plastik
Cleo mencatat daur ulang plastik hingga 3.000 ton pada 2025 melalui ekonomi sirkular untuk menekan penggunaan plastik baru di industri AMDK.
Para relawan melakukan aksi pembersihan sampah di Pantai Kedonganan (10/1), dalam kegiatan yang diinisiasi oleh produsen minuman Cleo, PT Sariguna Primatirta Tbk.
INFOBRAND.ID, Jakarta – Upaya daur ulang plastik terus diperkuat oleh industri air minum dalam kemasan (AMDK) untuk menekan penggunaan plastik baru. Merek AMDK Cleo menjalankan strategi ekonomi sirkular dengan mengolah kembali sampah plastik menjadi bahan baku produk yang lebih ramah lingkungan, sekaligus mengurangi beban lingkungan dari kemasan sekali pakai.
Melalui ekosistem sirkular yang dibangun bersama afiliasi pengolahan limbah, seluruh botol dan galon bekas Cleo diarahkan masuk ke jalur daur ulang. Limbah tersebut diproses menjadi material bernilai guna yang kembali dimanfaatkan sebagai produk baru, sehingga ketergantungan pada plastik perawan dapat ditekan.
Direktur Utama PT Sariguna Primatirta Tbk, Melisa Patricia, menyampaikan bahwa inisiatif ini telah berjalan konsisten selama lebih dari satu dekade. Seluruh kemasan botol dan galon pascakonsumsi dikelola melalui sistem terintegrasi agar dapat kembali dimanfaatkan. Inovasi ini melahirkan lini produk yang menggunakan material hasil daur ulang seratus persen sebagai bagian dari strategi pengurangan plastik baru.
"Sejak dua belas tahun lalu kami memiliki perusahaan afiliasi bernama PT Soka untuk mendaur ulang semua botol dan galon kami," tuturnya.
Hingga Oktober 2025, serapan sampah plastik yang didaur ulang mencapai sekitar 3.000 ton. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan sekitar 40% sepanjang 2025. Peningkatan serapan tersebut mencerminkan penguatan praktik daur ulang plastik dalam rantai pasok industri AMDK.
Limbah botol plastik yang terkumpul tidak hanya diolah kembali menjadi kemasan, tetapi juga ditransformasikan menjadi berbagai produk fungsional. Hasil daur ulang tersebut dimanfaatkan sebagai bahan atap bangunan, alas kaki, hingga pakaian, sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan oleh pengelola.
Direktur Sales PT Sariguna Primatirta Tbk, Totok Sucartono, menjelaskan bahwa peningkatan serapan limbah merupakan bagian dari penguatan proses operasional daur ulang. "Tahun ini serapan limbah meningkat empat puluh persen dan kami olah kembali menjadi botol, baju, hingga atap bangunan," papar Totok.
Selain fokus pada pengolahan limbah, manajemen perusahaan juga menyesuaikan operasional dengan regulasi daerah. Di Provinsi Bali, perusahaan menghentikan produksi dan distribusi kemasan plastik berukuran di bawah satu liter, sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah yang melarang peredaran kemasan plastik kecil. Seluruh fasilitas produksi dan jaringan distribusi di wilayah tersebut telah disesuaikan untuk mendukung kebijakan pengurangan sampah plastik.
Perusahaan juga menekankan pentingnya pengawasan terhadap potensi masuknya produk serupa dari luar wilayah Bali. Pengawasan ini dinilai diperlukan agar implementasi kebijakan daerah dapat berjalan konsisten dan tidak terganggu oleh distribusi ilegal melalui jalur pelabuhan.
"Kami menjamin pabrik kami tidak lagi memproduksi kemasan di bawah satu liter untuk mendukung penuh aturan pemerintah Provinsi Bali," bebernya.
Langkah-langkah tersebut menempatkan daur ulang plastik sebagai bagian integral dari strategi operasional industri AMDK, dengan fokus pada pengurangan plastik baru, pemanfaatan kembali material, serta kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang berlaku.


